Ciao readers, sekarang ini untuk memaksimalkan kebutuhan Virtual Reality (VR) contohnya untuk bermain game, diperlukan perangakat keras yang harganya “cukup” mahal, apalagi untuk budget yang bisa dikeluarkan mahasiswa dan fresh graduate. High-spec PC beserta console dan Head Mounted Display (HMD) merupakan syarat wajib untuk pengguna Virtual Reality. Kenapa demikian? Karena Apliasi Virtual Reality membutuhkan storage dan kekuatan pemrosesan terutama untuk mevisualisasikan dunia virtual agar pengguna dapat merasakan pengalaman yang benar-benar nyata dalam dunia virtual tersebut.

Pengguna VR masih dibatasi dengan lokasi dimana perangkat itu terpasang serta ada  beberapa hal yang menyebabkan pemasaran secara masal terhambat, seperti perangkat yang mahal, ­headset yang ukurannya tidak cukup ekonomis untuk diapakai, dan penggunaan yang cukup ribet. Meskipun perangkat standalone HMD VR tidak lagi membutuhkan PC tambahan, namun kemampuan visual grafis yang ditawarkan masih belum bisa memenuhi harapan pengguna (contoh : TV 4K).

Augmented Reality (AR) sekarang dapat dinikmati pada smartphones & tablets atau pada AR glasses seperti Hololens. Tetapi, karena keterbatasan computing power dan Filed of View (FoV) menyebabkan interaksi antara konten digital dan dunia nyata memiliki harmonisasi yang tidak maksimal. Dilain sisi, solusi untuk meningkatkan mobilitas dan pengguanaan perangkat yang relative murah tidak dapat dilakukan karena keterbatasan perangkat keras. Dengan adanya 5G, spesifikasi yang dibutuhkan untuk mendukung pengguanaan AR/VR dapat diarahkan dari penggunaan PC dan console ke edge cloud sehingga mendapatkan headseat yang memiliki kualitas yang setara dengan fixed headset tetapi dengan perangkat yang lebih ringan dan harganya murah. Ini merupakan Cloud AR/VR.

Benefit dari Cloud AR/VR salah satunya adalah pengembangan ‘lightweight client’, ini merupakan arsitektur dimana perangakat dapat menggunakan cloud technology untuk meningkatkan processing, storage, dan pengeksekusian aplikasi tidak pada perangkat tetapi pada cloud. Teknologi AR/VR akan menjadi mainstream ketika jaringan 5G sudah tersebar secara merata ke seluruh dunia karena konvergensi penggunaan cloud dan low latency ­­data connection. Kombinasi tersebut dapat memungkinkan untuk pengiriman data ultra-high resolution (4k – 8k) dengan latency yang rendah. Teknologi 5G dapat membuat hal tersebut menjadi nyata melalui kapabilitas jaringannya, memungkinkan service yang handal dan low latency ­­data connection melalui edge cloud technology.


Reference : Cloud AR/VR booklet for MWC19

Last modified: January 22, 2021

Author

Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.