Oke jadi kali ini kita membahas sedikit saja konsep tentang cloud native, yang menjadi salah satu topik utama riset lab ini. Jadi apa itu cloud native? Berikut ada kutipan sederhana dari seorang software engineer di VMware:

” Memanfaatkan keunikan dari kemampuan cloud “

Joe Beda

Sebelum mengetahui keunikan dari cloud, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu cloud.

Sederharnya cloud itu berjalan di atas infrastruktur orang lain, kita menjadi seorang “penyewa” dari infrasturktur tersebut. Juga yang dimaksud dengan infrastruktur adalah merujuk kepada hardware, software, jaringan (router, saklar, kabel) dan penyimpanan yang bersifat off-premise dan dapat di akses via internet.

Alasan mengapa kita disebut sebagai “penyewa” adalah karena para Cloud Provider lebih baik dalam hal memanage infrastruktur dibandingkan dengan kita. Kita memberikan tanggung jawab dan resiko manajemen tersebut sepenuhnya kepada mereka dan juga alasannya para cloud providers telah memfasilitasi beberapa fitur unik untuk para client nya, jadi mudah sekali untuk melakukannya.

Berikut beberapa kemampuan unik dari cloud:

  • Self-Service

Para developers merancang infrastruktur cloud untuk mudah diakses clientnya, tidak seperti halnya di resto atau tempat lain yang memerlukan antrian dan bantuan waiter, cloud infrastructure membuat para client nya untuk melakukan setup infrastruktur nya sendiri sebutuhnya.

  • API-Driven

Application Programming Interface (API) memungkinkan para developer untuk berinteraksi secara terprogram dan meperlakukannya sebagai Infrastructure as a Code (IaaC). Jadi tidak hanya bisa melakukan Self-Service namun bisa mengotomasikan kontrol dari infrastruktur tersebut.

  • Elastic

Karena berbasis API-Driven yang di sediakan oleh developer dan secara fleksibel terprogram oleh aplikasi , maka sifatnya bisa di scale up atau scale down agar sesuai dengan kebutuhan sistem atau beban user.

Jadi apasih sebenarnya arti dari Cloud Native?

Ketika berbicara tentang cloud native dari sudut pandang tekonologi, ada beberapa istilah yang menyertainya. Secara singkat:

Pertama yaitu DevOps simple nya infrastructure automation, sebuah new way of thinking tentang Infrastrucutre as Code, menjadi penghubung antrara tim developer dan operation.

Kedua Continuous integration (CI) and continuous delivery (CD), simple nya tentang bagaimana kita memulai untuk mengulang sesuatu yang sering dilakukan dengan cara otomatis, sehingga kesalahan manual terdahulu tidak terulang kembali, karena semua didesign untuk dites dan dideploy secara instan.

Ketiga Microservices, idenya adalah dengan memecah aplikasi besar dan kompleks ke dalam komponen yang lebih kecil, yang membutuhkan komunikasi antar aplikasi bisa didepoly secara independen, hal ini memungkinkan untuk update fitur pada komponen yang kecil (lebih mudah) tanpa harus merubah keseluruhan sistem.

Keempat Kontainer memungkinkan kita untuk membungkus paket dari aplikasi dan dependesinya, hal ini sangat bermanfaat terutama untuk teknologi microservice yang menjadikannya lebih simple dan mudah.

Untuk mempertegas lagi bahwa Cloud Native tidak harus berjalan di atas atau di dalam cloud. Namun tentang memanfaatkan kemampuan unik cloud, termasuk membawa kemampuan tersebut ke on premise data centre. Jadi cloud native bukan sesuatu yang kita beli, atau yang kita lakukan, atau bukan dimana kita harus deploy aplikasinya, namun tentang sesuatu yang kita operasikan sebagai suatu organisasi.

Last modified: November 18, 2021

Author

Comments

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.